“Karena makin langkanya dokar di semarang itulah sehingga kami
berpikir mau menghidupkan kembali gairah dalam penggunaan transportasi
tersebut bentuknya dilakukan kerja sama dalam bentuk paket wisata
semacam jalan-jalan dalam kota melalui dokar, “ janji Suaib
ketika itu.
Saat ini di Kecamatan tembalang khususnya Kota semarang kendaraan dokar yang beroperasi tinggal beberapa unit, yaitu milik
Ismet (27) salah seorang kusir yang tinggal di dekat Puskesmas kesatrian. Dan menurutnya tak ada jaminan kalau dokarnya
itu bisa bertahaan karena kuda penarik kendaraan miliknya pun tinggal
satu ekor.
“Saat ini yang lebih memprihatinkan, teman lainnya semuanya sudah berhenti dan
dokarnya dijual,” kata Ismet.
Menurutnya, sejak beberapa tahun
terakhir ini kendaraan dokar berangsur-angsur berkurang. Tahun 2009
lalu saja tinggal 9 unit kemudian sejak awal Januari 2010 lalu tinggal
Ismet sendiri yang jadi kusir.
“Sebetulnya yang cukup lama menjalankan dokar itu Pak Jamal, namun dokarnya juga sudah dijual,” kata Ismet lagi.
Pemantauan
media ini menemukan dari sejumlah kusir dokar telah beralih menjadi
tukang ojek dengan lebih dahulu menjual dokarnya untuk beli kendaraan
sepeda motor. Hal itu dilakukan menyusul biaya pemeliharaan kuda cukup
besar dan pakan ternak kuda berupa dedak makin sulit didapatkan. “Kalau
kendaraan ojek biaya pemeliharannya murah dan praktis,” kata seorang
tukang ojek.
Punahnya kendaraan tradisional Dokar itu
selain disebabkan biaya pemeliharaan cukup besar menyusul harga kuda
makin mahal, tapi juga tidak mampu bersaing dengan kendaraan ojek dan
becak. Persaingan tersebut mulai terasa sejak beroperasinya kendaraan
becak tahun 1998 lalu.
![]() |
| Add caption |
Padahal menurut Ismail Husen (68),
salah satu masyarakat yang pernah memiliki 4 unit kendaraan
dokar, sejak tahun 1950-an Kota Donggala sangat identik dengan
dokarnya. Bahkan mulanya roda dokar di Semarang masih memakai kayu
berlapis besi dan itu cukup lama dipakai, nanti tahun 80-an beralih ke
roda ban karet seperti sekarang. “Kendaraan tradisional itu pernah
menjadi kekhasan Kota Lama sehingga orang yang datang berkunjung
selalu memanfaatkan dokar untuk keliling Semarang, tapi sekarang
tinggal kenangan,” cerita Ismail Husen.
Selain itu setiap
ada peringatan hari-hari bersejarah seperti 17 Agustus maupun perayaan
lainnya, pemilik dokar selalu berpartisipasi dalam pawai. Bahkan para
kusir dengan suka rela menghiasi dokarnya untuk keliling kota dan hal
itu menjadi daya tarik tersendiri karena menjadi tontonan warga.
Kejayaan
dan partisipasi para kusir dokar yang pernah mewarnai perjalanan
wisata kota tua (kota lama), kini tinggal cerita kenangan yang tak bisa
disaksikan generasi muda mendatang. Sementara janji-janji pejabat
birokrat Pemerintah juga tinggal janji yang ingin menggairahkan
kembali nuansa kendaraan tradisional dengan pelatihan pembahaman
tentang khazanah wisata, semua tinggal cerita yang tak pernah berwujud.

