Sabtu, 15 September 2012

dokar oh dokar

“Karena makin langkanya dokar di semarang itulah sehingga kami berpikir mau menghidupkan kembali gairah dalam penggunaan transportasi tersebut bentuknya dilakukan kerja sama dalam bentuk paket wisata semacam jalan-jalan dalam kota melalui dokar, “ janji Suaib ketika itu.

Saat ini di Kecamatan tembalang khususnya Kota semarang kendaraan dokar yang beroperasi tinggal beberapa unit, yaitu milik Ismet (27) salah seorang kusir yang tinggal di dekat Puskesmas kesatrian. Dan menurutnya tak ada jaminan kalau dokarnya itu bisa bertahaan karena kuda penarik kendaraan miliknya pun tinggal satu ekor.
“Saat ini yang lebih memprihatinkan, teman lainnya semuanya sudah berhenti dan dokarnya dijual,” kata Ismet.
Menurutnya, sejak beberapa tahun terakhir ini kendaraan dokar berangsur-angsur berkurang. Tahun 2009 lalu saja tinggal 9 unit kemudian sejak awal Januari 2010 lalu tinggal Ismet sendiri yang jadi kusir.

“Sebetulnya yang cukup lama menjalankan dokar itu Pak Jamal, namun dokarnya juga sudah dijual,” kata Ismet lagi.
Pemantauan media ini menemukan dari sejumlah kusir dokar telah beralih menjadi tukang ojek dengan lebih dahulu menjual dokarnya untuk beli kendaraan sepeda motor. Hal itu dilakukan menyusul biaya pemeliharaan kuda cukup besar dan pakan ternak kuda berupa dedak makin sulit didapatkan. “Kalau kendaraan ojek biaya pemeliharannya murah dan praktis,” kata seorang tukang ojek.

Punahnya kendaraan tradisional Dokar itu selain disebabkan biaya pemeliharaan cukup besar menyusul harga kuda makin mahal, tapi juga tidak mampu bersaing dengan kendaraan ojek dan becak. Persaingan tersebut mulai terasa sejak beroperasinya kendaraan becak tahun 1998 lalu.
Add caption




Padahal menurut Ismail Husen (68), salah satu masyarakat yang pernah memiliki 4 unit kendaraan dokar, sejak tahun 1950-an Kota Donggala sangat identik dengan dokarnya. Bahkan mulanya roda dokar di Semarang masih memakai kayu berlapis besi dan itu cukup lama dipakai, nanti tahun 80-an beralih ke roda ban karet seperti sekarang. “Kendaraan tradisional itu pernah menjadi kekhasan Kota Lama sehingga orang yang datang berkunjung selalu memanfaatkan dokar untuk keliling Semarang, tapi sekarang tinggal kenangan,” cerita Ismail Husen.


Selain itu setiap ada peringatan hari-hari bersejarah seperti 17 Agustus maupun perayaan lainnya, pemilik dokar selalu berpartisipasi dalam pawai. Bahkan para kusir dengan suka rela menghiasi dokarnya untuk keliling kota dan hal itu menjadi daya tarik tersendiri karena menjadi tontonan warga.

Kejayaan dan partisipasi para kusir dokar yang pernah mewarnai perjalanan wisata kota tua (kota lama), kini tinggal cerita kenangan yang tak bisa disaksikan generasi muda mendatang. Sementara janji-janji pejabat birokrat Pemerintah juga tinggal janji yang ingin menggairahkan kembali nuansa kendaraan tradisional dengan pelatihan pembahaman tentang khazanah wisata, semua tinggal cerita yang tak pernah berwujud.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar